Minggu, 02 November 2014

UTS MK Teori-Teori Ilmu Sosial -YUPENSIA ROSALIA

NAMA  : YUPENSIA ROSALIA
NIM      : 2013210119
PRODI  : ILMU ADMINISTRASI NEGARA ( B)
Teori interaksi simbolik                 
Konsep teori interaksi simbolik ini diperkenalkan oleh Herbert Blumer sekitar tahun 1939.
Karakteristik teori ini adalah suatu hubungan yang terjadi secara alami antara manusia dalam masyarakat dan hubungan masyarakat dengan individu; Interaksi yang terjadi antar individu berkembang melalui simbol-simbol yang mereka ciptakan. Realitas social merupakan rangkaian peristiwa yang terjadi pada beberapa individu dalam masyarakat. Interaksi yang dilakukan antar individu itu berlangsung secara sadar;
Interaksi simbolik juga berkaitan dengan:
1.      Gerak  tubuh, antara lain:
2.      Suara  atau vocal;
3.      Gerakan fisik;
4.      Ekspresi tubuh;
Yang semua itu mempunyai maksud dan disebut dengan “simbol”;
Pada awal perkembangannya, interaksi simbolik lebih menekankan studinya tentang perilaku manusia pada hubungan interpersonal, bukan pada keseluruhan kelompok atau masyarakat. Proposisi paling mendasar dari interaksi simbolik adalah perilaku dan interaksi manusia itu dapat dibedakan, karena dapat ditampilkan lewat symbol dan maknanya. Mencari makna di balik yang sensual menjadi penting di dalam interaksi simbolis.
Secara umum, ada enam proposisi yang dipakai dalam konsep interaksi simbolik, yaitu:
1.      Perilaku manusia mempunyai makna di balik yang menggejala;
2.      Pemaknaan kemanusiaan perlu dicari sumber pada interaksi sosial manusia;
3.      Masyarakat merupakan proses yang berkembang holistik, tak terpisah, tidak linier, dan tidak terduga;
4.      Perilaku manusia itu berlaku berdasar penafsiran fenomenologik, yaitu berlangsung atas maksud, pemaknaan, dan tujuan, bukan didasarkan atas proses mekanik dan otomatis;
5.      Konsep mental manusia itu berkembang dialektik; dan
6.      Perilaku manusia itu wajar dan konstruktif reaktif.
Sumber:                                                                                                           
Analisis saya mengenai Hakikat Teori-Teori Ilmu Sosial bilamana dihubungakan dengan Kompetensi yang akan dibentuk untuk atau pada Saya dari Mata Kuliah ini, dengan bersandarkan kepada Teori Interaksi Simbolik, yaitu :
Hakikat ilmu social membicarakan hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya. Hubungan ini dapat diwujudkan kenyataan social dan kenyataan social inilah yang menjadi titik perhatiannya. Dengan demikian ilmu social memberikan pengetahuan umum dan pengetahuan dasar tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk melengkapi gejala-gejala social agar daya tanggap persepsi dan pegangan  kita dalam menghadapi lingkungan social. Dalam teori interaksi simbolik memiliki metodologi interaksi simbolik yaitu :
ð  Symbol dan interaksi itu menyatu
ð  Karena simbol dan interaksi itu tidak lepas dari sikap pribadi
ð  Penelitian harus sekaligus mengaitkan antara simbol dan jati diri dengan lingkungan
ð  Hendaknya direkam dengan situasi
ð  Metode yang dipakai hendaknya mampu menangkap makna dibalik  interaksi sensitizing
Mempelajari sebuah teori simbolik merupakan sebuah metode penelitian yang sangat sulit dan harus teliti untuk implementasi teori. tujuannya untuk memperbaiki kehidupan bermasyarakat/manusia untuk menjadi lebih baik .proses teori itu tersebut terjadi karena adanya pengalaman ,pengetahuan ,ilmu dan model.


Senin, 07 Juli 2014

HUMAN RELATION ( hubungan manusia )

NAMA : YUPENSIA ROSALIA
NIM : 2013210119
PRODI : ILMU ADMINISTRASI NEGARA
FAKULTAS : ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


                          HUBUNGAN MANUSIA  ( human relation )

PENDAHULUAN :
 Menurut Wursanto ( 1987) human relation adalah : Istilah hubungan kemanusiaan sering disebut juga hubungan antra manusia. Kata istilah tersebut terjemahan dari kata human relation.hubngan antara manusia, memandang amnesia dalam bentuk  wujudnya saja atau secara lahirnya saja, sebaliknya dalam hubungna kemanusiaan yakni memandang manusia bukan saja dari wujudnya saja, tetapi dari segi sifatnya, wataknya, sikapnya, tingkahlakunya, kepribadiannya, dan berbagai aspek kejiwaan lainya yang ada pada diri manusia. Dengan demikian titik berat pada hubungan kemanusiaan yaitu dari segi manusianya.

ISI :
Dalam hubungan antar manusia memiliki factor- factor  yaitu :
F Imitasi /mudah terpengaruh
F Sugesti /menerima cara pandang orang lain tanpa dikritik dahulu
F Identifikasi
F Simpati
Menurut Effendy (1993), human relation yaitu :
a.         Dalam arti luas, human relation adalah komonikasi persuasive yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain secara tatap muka dlam segala situasi dan dalam semua bidang kehidupan sehingga menimbulkan kebahagian dan kepuasan hati kedua belah pihak.
b.         Dalam arti sempit, human relation adalah komonikasi persuasive yang dilakukan oleh seseoramng kepada orang lain dlam situasi kerja ( work siti\uation) dan dalam organisasi kekaryaan (work organization) dengan tujuan untuk menggugah kegairahan dan kegiatan bekerja  dengan semangat bekerja sama yang produktif dengan perasaan bahagia dan puas hati.


Kesimpulan :
 human relation merupakan  terjemahan kata hubungan kemanusiaan yang bersifat rohaniah dengan memperhatikan aspek-aspek kejiwaan yang ada didiri manusia misalnya: watak, sikap, tingkahlaku, peramai, dan lain-lain aspek kejiwaan yang terdapat dalam diri manusia, dalam arti luas human relation merupakan komunikasi yang dilakukan dimana  saja, baik di rumah, di jalan, di pasar dan dalam berbagai kesempatan, sedangkan dalam arti sempit, komunikasi yang dilakukan dalam situasi formal. Dengan demikian, dalam human relation, aspek komunikasi harmonis sangat di perlukan agar human relation yang berlangsung betul-betul memiliki dampak yang bersifat positif terdapat kelancaran kerja karyawan.






Rabu, 18 Juni 2014

Tugas 4 Etika dan Filsafat Kepemimpinan


NAMA : YUPENSIA ROSALIA
NIM: 2013210119
PRODI: ILMU ADMINISTRASI NEGARA
FAKULTAS : ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

Stereotipe Visioner Leadership, menjadikan motivasi  saudara sebagai agent of change and development  secara akuntabel dengan harapan transformational leadership dalam Proses Belajar dan Mengajar baik ilmu maupun seni menjadikan saudara “SMART Leadership”.

Tugas/pertanyaan:
1.      Jelaskan makna konsep tersebut di atas !
Menjadi seorang pemimpin itu adalah seorang pemimpin yang memiliki  jiwa kepemimpinan yang tinggi yang mampu mengubah/merubah masyarakatnya untuk menjadi lebih baik dan memiliki pengetahuan tentang ilmu yang mendekati secara filsati ,dengan tujuan untuk lebih memfungsionalkan ujud keilmuan baik secara intelektual,moral ,maupun sosial yang menjadikan seorang pemimpin agent of change  and development, seorang pemimpin itu harus memiliki komitmen yang tinggi yang mampu menyampaikan suatu keputusan yang efektif dan efisien  agar mampu mengembangkan nilai-nilai dan moral sosial  dimasyarakat agar menjadi lebih baik dan melahirkan seorang pemimpin yang SMART.( pemimpin yang paling pantas memimpin adalah orang yang bisa memimpin keluarganya dengan baik ).

2.      Faktor-2 apa saja yang mendukung ?
Seorang pemimpin yang jujur , berakhlak mulia, sabar , komitmen , bertanggung jawab dan bijak melaksanakan tugas.
3.      Faktor apa saja yang menghambat ?
Seseorang  yang Tidak memiliki kemampauan untuk membuat seseorang mengerjakan hal yang tidak mereka sukai ,dan menyukainya . ketika seorang pemimpin tidak relaks , tidak lepas , tidak terbuka , keras kepala , pemarah , dan tidak dapat diduga , pemimpin yang bersikap palsu saat ia membicarakan tentang pribadinya dan tidak mengatakan kebenaran , tidak mengenal /menguasai diri dan tidak menegenal bawahannya , tidak peduli terhadap bawahannya. 

4.  Serta bagaimana pemecahannya ?
Jadi, solusi dari hambatan diatas dalam rangka mewujudkan Seorang pemimpin yang Smart Leadership maka seorang pemimpin harus memiliki rasa Pengertian, Visioner, Tegas, Bijaksana, Bisa menempatkan diri, Mampu/cakap Terbuka, Mampu mengatur, Disegani , Cerdas, Cekatan, Terampil, Pemotivasi, Jujur, Berwibawa, Berwawasan luas, Konsekuen, Melayani, Credible, Mampu membawa perubahan, Adil, Berperikemanusiaan, Kreatif, Inovatif, Sabar, Bertanggung jawab, Konsiten, Low profile, Sederhana dan humble (rendah hati), Rendah hati/humble, Royal/tidak kikir, berjiwa sosial Loyal (setia) kepada bawahan, Disiplin, Mampu menjadi tauladan/memberi contoh, Punya integritas, Berdikasi/berjiwa mengabdi, Dapat dipercaya (credible), Percaya diri, Kritis, Religious, Mengayomi, Responsive (cepat tanggap), Teliti, Supel (ramah), Pema’af, Peduli (care), Profesional, Berprestasi, Penyelesai Masalah (problem solver), Good looking, Sopan, Cerdas secara emosi (memiliki tingkat EQ yang tinggi).

Rabu, 21 Mei 2014

Tugas 3 (ketiga) Etika dan Filsafat Kepemimpinan



Tugas 3 (ketiga) Etika dan Filsafat Kepemimpinan
MAKNA KOMPETENSI
Kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu
(SK Mendiknas No. 045/U/2002, Ps. 21)

Tugas / pertanyaan:
1.      Susun 2 (dua) capaian kompetensi Etika dan Filsafat Kepemimpinan yang ingin saudara capai dari pendekatan Ilmu/Pengetahuan;
a.       Yang pertama, capaian kompetensi Etika dan Filsafat Kepemimpinan yang ingin saya capai dari pendekatan Ilmu/Pengetahuan, yaitu berkompeten mengaplikasikan ilmu/ pengetahuan dalam kehidupan sosial bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang lebih berkualitas, intelektual, beretika, bermoral dan berbudaya.
b.      Yang kedua, capaian kompetensi Etika dan Filsafat Kepemimpinan yang ingin saya capai dari pendekatan ilmu/Pengetahuan, yaitu berkompeten mengaplikasikan ilmu/pengetahuan dalam dunia kerja yang mampu menghasilkan produktivitas yang tinggi dan mampu berinovasi dalam dunia kerja dengan menggunakan ilmu /pengetahuan yang dimiliki.

2.      Susun 2 (dua) capaian kompetensi Etika dan Filsafat Kepemimpinan yang ingin saudara capai dari pendekatan Ketrampilan;
a.       Yang pertama, Capaian kompetensi Etika dan Filsafat Kepemimpinan yang ingin saya capai dari pendekatan Ketrampilan yaitu, terampil dalam kehidupan sosial bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang lebih berkualitas, intelektual, beretika, bermoral dan berbudaya.
b.      Yang kedua, Capaian kompetensi Etika dan Filsafat Kepemimpinan yang ingin saya capai dari pendekatan Ketrampilan yaitu, terampil dalam dunia kerja yang mampu menghasilkan produktivitas yang tinggi dan mampu berinovasi dalam dunia kerja dengan menerapkan keteramplian.



3.      Susun 2 (dua) capaian kompetensi Etika dan Filsafat Kepemimpinan yang ingin saudara capai dari pendekatan Sikap / Perilaku;
a.       Yang pertama, Capaian kompetensi Etika dan Filsafat Kepemimpinan yang ingin saya capai dari pendekatan Sikap/Perilaku yaitu, berkompeten mengendalikan Sikap/Perilaku dalam kehidupan sosial bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang lebih berkualitas, intelektual, beretika, bermoral dan berbudaya.
b.      Yang kedua, Capaian kompetensi Etika dan Filsafat Kepemimpinan yang ingin saya capai dari pendekatan Sikap/Perilaku yaitu, berkompeten mengendalikan Sikap/Perilaku dalam dunia kerja yang mampu menghasilkan produktivitas yang tinggi dan mampu berinovasi dalam dunia kerja dengan menerapkan sikap/ perilaku yang baik.
4.      Susun / desain model kompetensi Etika dan Filsafat Kepemimpinan yang saudara unggulkan dan lakukan dalam uji kompetensi akhir semester (dapat berupa bagan atau yang lain).
 










Keterangan:
1.       Seluruh tugas tersebut di atas wajib dikerjakan;
2.       Pilih salah satu tugas tersebut di atas masuk dalam komentar dosen, disertai deskripsinya.
3.       Hasil tugas dikumpulkan tanggal 22 Mei 2014;
4.       Keterlambatan dari tanggal tersebut tidak diterima. 

Rabu, 07 Mei 2014

Tugas : Etika dan Filsafat Kepemimpinan

Jawaban :
1.VISI
   Menjadi seorang pemimpin/ leader yang bijaksana dan adil yang mampu memberikan contoh yang baik terhadap masyarakat ,sehingga bisa menjadi agent of change untuk mencapai suatu tujuan kesejahteraan dan mampu mengembangkan nilai-nilai sosial dimasyarakat.
 MISI
F mensejahterakan  masyarakat
F memperbaiki SDM agar  menjadi lebih baik
F memberikan bantuan atau beasiswa kepada masyarakat yang kurang mampu

 STRATEGI
    Harus melakukan tindakan lebih baik yang bijaksana ,adil dan bertanggung jawab terhadap masyarakat  dan menerima kritik/saran dari masyarakat .

2 . @ Faktor pendukung 
F kesadaran dari hati
F kepercayaan diri
F Epati
F Memiliki pengetahuan yang luas
F Memiliki skill
F Memiliki pengalaman yang luas

          @ Faktor penghambat
                  Pada dasarnya masyarakat atau calon pemimpin bangsa indonesia sekarang jarang  ditemukan yang  bisa memberikan contoh  atau mengambil suatu  keputusan yang baik terhadap masyarakat  dan jarang juga ditemukan pemimpin yang bisa mengambil  tindakan benar dan jujur  ,bertanggung jawab sehingga bisa menjadi pemimpin yang bisa memimpin masyarakat dengan baik.
3. cara mengatisipasi faktor pendukung tersebut agar tidak menimbulkan arogansi
  Caranya dengan cara pemimpin lebih bisa melihat dan meneliti calon pemimpin tersebut agar tanggap,kreatif dan efektif serta efisian sehingga mampu mengarahkanpemimpin kearah yg lebih baik.

4. cara mengorganisir faktor penghambat agar tidak menimbulkan sikap apatis
          Dengan cara pemimpin tersebut lebih membimbing dan mengasah calon pemimpin tersebut sehingga mampu mengmbil suatu tujuan atau keputusan kearah yang lebih baik.

5.  Sebagai  seorang pemimpin /leader  kita harus melakukan perubahan yang mampu mengubah     masyarakat nya agar menjadi lebih baik dah sejahtera ,serta mampu mengambil suatu tujuan atau keputusan yang bertanggung jawab terhadap masyarakat ,dan mampu menyampaikan apa yang harus disampaikan kepada masyarakat agar mampu menjadi seorang pemimpin agent of change yang efektif dan efisien  dan bijaksana agar bisa mengembangkan nilai-nilai sosial dimasayarakat.  

Rabu, 23 April 2014

Tugas Etika dan Filsafat Kepemimpinan



Minggu, 13 April 2014
Tugas 1, Etika dan Filsafat Kepemimpinan, April 2014


Pada dasarnya Saudara dicetak menjadi Pemimpin, dengan berkompetensi Kepemimpinan, dengan nilai lebih pada Etika dan Filsafat Kepemimpinan yang didasarkan pada teori sifat-sifat pemimpin, dengan harapan beraplikasi pada perilaku kepemimpinan situasional, sehingga ada keterikatan baik emosional maupun kontingensi tujuan baik individu maupun organisasi, melalui proses tingkat kematangan kompetensi yang ditunjang motivasi menjadikan diri pemimpin yang melayani dalam sistem kepemimpian.

Tugas:
1.      Lakukan analisis singkat atas konsep tersebut di atas. (jawaban soal no 1 ini setelah diserahkan secara fisik/tertulis, dimasukkan pada komentar, dan diunggah pada blog masing-2 mahasiswa, print out bukti unggah);
2.      Berikan contoh satu sikap dan perilaku, yang saudara lakukan dalam komitmen pemimpin yang berkompeten dengan nilai etika dan filsafat kepemimpinan dalam kehidupan se-hari-2 saudara secara situasional;
3.      Tingkat kematangan pemimpin, akan terlihat pada proses kepemimpinan dalam sikap, perilaku dan tindakan pengambilan keputusan, apakah usulan saudara agar mahasiswa dapat mencapai tujuan tersebut?

Keterangan:
Jawaban diberikan paling lambat hari Senin, 24 April 2014. Terimaksih.  





NAMA           : YUPENSIS ROSALIA
NIM                : 20113210119
Jawaban:
1.      Analisis Singkat Atas Konsep Tersebut Di Atas.
Pada dasarnya ketika kita dicetak menjadi seorang pemimpin dengan berkompentensi kepemimpinan. Seorang pemimpin harus mengetahui nilai-nilai dari pada etika dan filsafat kepemimpinan yang mendasarkan pemahaman tentang baik buruknya, salah atau benar, dan etika juga lebih dipandang sebagai seni kehidupan yang mengarahkan kesejahteraan, kebahagiaan dan kebijaksanaan.
Yang didasari pada teori sifat-sifat pemimpin yaitu teori kepemimpinan yang besar:
A.    Teori  sifat

B.     Teori perilaku

C.     Teori intergratif
Menyatukan seluruh unsure-unsur yang ada diwilayah kepemimpinnya.
D.    Teori kontingensi
Dengan harapan beraplikasi pada prilaku kepemimpinan        situasional, sehingga ada keterikatan baik emosional maupun kontingensi     tujuan, baik individu  maupun organisasi ,melalui proses tingkat kematangan kompetensi sehingga melahirkan seorang pemimpin yang takwa, sehat, cakap, jujur, tegas, setia, cerdik, berani, berilmu, efisien, disiplin, manusiawi dan bijaksana.
2.      Contoh satu sikap dan perilaku, yang saudara lakukan dalam komitmen pemimpin yang berkompeten dengan nilai etika dan filsafat kepemimpinan dalam kehidupan se-hari-2 saudara secara situasional;
ü  Contoh sikap dan perilaku yang saya lakukan dalam komitmen pemimpin yang berkompeten dengan nilai etika dan filsafat kepemimpinan dalam kehidupan sehari-hari misalnya ketika saya memimpin sebuah kelompok atau kumpulan tertentu yang bertujuan untuk mencapai tujuan tertentu, maka sebagai seorang yang memimpin kelompok tersebut harus berkomitmen untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawab sebagai suatu kewajiban dari seorang pemimpin. Ketika menjalankan tanggungjawab sebagai pemimpin harus ikhlas, sabar, jujur dan tanpa pamrih serta melakukan tugas sebagai seorang pemimpin secara jujur tanpa harus dilihat ataupun diperhatikan oleh orang lain. Ketika ada masalah atau suatu hal yang sifatnya harus ditangani atau diselesaikan secara cepat maka seorang pemimpin harus melihat situasinya, apakah harus diputuskan sendiri (otoriter) atau harus terlebih dahulu diskusi atau memintai pendapat bawahan (demokratis), itu semua tergantung pada situasi yang menentukan tindakan cepat.

3.      Tingkat kematangan pemimpin, akan terlihat pada proses kepemimpinan dalam sikap, perilaku dan tindakan pengambilan keputusan, apakah usulan saudara agar mahasiswa dapat mencapai tujuan tersebut?
ü  Usulan saya agar mahasiswa dapat mencapai tujuan tersebut yaitu mahasiswa harus mampu menunjukkan dirinya sendiri sebagai pemimpin yang berkarakter, dan tidak boleh krisis karakter seperti:
F Sikap mental bahwa kemajuan bisa diperoleh secara mudah, tanpa kerja keras, menadahkan tangan dan dengan menuntut ke kiri dan ke kanan.
F Kebiasaan menimpakan kesalahan kepada orang lain, merupakan salah satu karakter yang menghambat kemajuan.
F Degradasi karakter generasi muda;
F Lunturnya budaya nasional;
F Terpuruknya kehidupan berbangsa dan ber-negara;
F Kurang terakomodasinya pendidikan karak-ter bangsa dalam pendidikan formal, nonfor-mal, dan informal;
F Tantangan era globalisasi; dan
F Kurang efektifnya implementasi peraturan perundang-undangan.
Krisis karakter diatas dapat mempengaruhi proses kepemimpinan dalam bersikap, berperilaku dan bertindak dalam pengambilan keputusan.
Selain mengindari hal tersebut diatas, dalam hal ini usulan saya agar mahasiswa dapat mencapai tujuan tersebut, yaitu sebagai pembuat keputusan paling tidak harus berkompeten mengimplementasikan Falsafah Kepemimpinan (Ki Hadjar Dewantara ), yang mengatakan bahwa:
·         Ing Ngarso Sung Tulodo (di depan mem-beri contoh keteladanan)
·         Ing Madyo Mangun Karso (di tengah membangun karsa àmemotivasi).
·         Tut Wuri Handayani (di belakang berusa-ha memberdayakan, memberi support).