Rabu, 23 April 2014

Tugas Etika dan Filsafat Kepemimpinan



Minggu, 13 April 2014
Tugas 1, Etika dan Filsafat Kepemimpinan, April 2014


Pada dasarnya Saudara dicetak menjadi Pemimpin, dengan berkompetensi Kepemimpinan, dengan nilai lebih pada Etika dan Filsafat Kepemimpinan yang didasarkan pada teori sifat-sifat pemimpin, dengan harapan beraplikasi pada perilaku kepemimpinan situasional, sehingga ada keterikatan baik emosional maupun kontingensi tujuan baik individu maupun organisasi, melalui proses tingkat kematangan kompetensi yang ditunjang motivasi menjadikan diri pemimpin yang melayani dalam sistem kepemimpian.

Tugas:
1.      Lakukan analisis singkat atas konsep tersebut di atas. (jawaban soal no 1 ini setelah diserahkan secara fisik/tertulis, dimasukkan pada komentar, dan diunggah pada blog masing-2 mahasiswa, print out bukti unggah);
2.      Berikan contoh satu sikap dan perilaku, yang saudara lakukan dalam komitmen pemimpin yang berkompeten dengan nilai etika dan filsafat kepemimpinan dalam kehidupan se-hari-2 saudara secara situasional;
3.      Tingkat kematangan pemimpin, akan terlihat pada proses kepemimpinan dalam sikap, perilaku dan tindakan pengambilan keputusan, apakah usulan saudara agar mahasiswa dapat mencapai tujuan tersebut?

Keterangan:
Jawaban diberikan paling lambat hari Senin, 24 April 2014. Terimaksih.  





NAMA           : YUPENSIS ROSALIA
NIM                : 20113210119
Jawaban:
1.      Analisis Singkat Atas Konsep Tersebut Di Atas.
Pada dasarnya ketika kita dicetak menjadi seorang pemimpin dengan berkompentensi kepemimpinan. Seorang pemimpin harus mengetahui nilai-nilai dari pada etika dan filsafat kepemimpinan yang mendasarkan pemahaman tentang baik buruknya, salah atau benar, dan etika juga lebih dipandang sebagai seni kehidupan yang mengarahkan kesejahteraan, kebahagiaan dan kebijaksanaan.
Yang didasari pada teori sifat-sifat pemimpin yaitu teori kepemimpinan yang besar:
A.    Teori  sifat

B.     Teori perilaku

C.     Teori intergratif
Menyatukan seluruh unsure-unsur yang ada diwilayah kepemimpinnya.
D.    Teori kontingensi
Dengan harapan beraplikasi pada prilaku kepemimpinan        situasional, sehingga ada keterikatan baik emosional maupun kontingensi     tujuan, baik individu  maupun organisasi ,melalui proses tingkat kematangan kompetensi sehingga melahirkan seorang pemimpin yang takwa, sehat, cakap, jujur, tegas, setia, cerdik, berani, berilmu, efisien, disiplin, manusiawi dan bijaksana.
2.      Contoh satu sikap dan perilaku, yang saudara lakukan dalam komitmen pemimpin yang berkompeten dengan nilai etika dan filsafat kepemimpinan dalam kehidupan se-hari-2 saudara secara situasional;
ü  Contoh sikap dan perilaku yang saya lakukan dalam komitmen pemimpin yang berkompeten dengan nilai etika dan filsafat kepemimpinan dalam kehidupan sehari-hari misalnya ketika saya memimpin sebuah kelompok atau kumpulan tertentu yang bertujuan untuk mencapai tujuan tertentu, maka sebagai seorang yang memimpin kelompok tersebut harus berkomitmen untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawab sebagai suatu kewajiban dari seorang pemimpin. Ketika menjalankan tanggungjawab sebagai pemimpin harus ikhlas, sabar, jujur dan tanpa pamrih serta melakukan tugas sebagai seorang pemimpin secara jujur tanpa harus dilihat ataupun diperhatikan oleh orang lain. Ketika ada masalah atau suatu hal yang sifatnya harus ditangani atau diselesaikan secara cepat maka seorang pemimpin harus melihat situasinya, apakah harus diputuskan sendiri (otoriter) atau harus terlebih dahulu diskusi atau memintai pendapat bawahan (demokratis), itu semua tergantung pada situasi yang menentukan tindakan cepat.

3.      Tingkat kematangan pemimpin, akan terlihat pada proses kepemimpinan dalam sikap, perilaku dan tindakan pengambilan keputusan, apakah usulan saudara agar mahasiswa dapat mencapai tujuan tersebut?
ü  Usulan saya agar mahasiswa dapat mencapai tujuan tersebut yaitu mahasiswa harus mampu menunjukkan dirinya sendiri sebagai pemimpin yang berkarakter, dan tidak boleh krisis karakter seperti:
F Sikap mental bahwa kemajuan bisa diperoleh secara mudah, tanpa kerja keras, menadahkan tangan dan dengan menuntut ke kiri dan ke kanan.
F Kebiasaan menimpakan kesalahan kepada orang lain, merupakan salah satu karakter yang menghambat kemajuan.
F Degradasi karakter generasi muda;
F Lunturnya budaya nasional;
F Terpuruknya kehidupan berbangsa dan ber-negara;
F Kurang terakomodasinya pendidikan karak-ter bangsa dalam pendidikan formal, nonfor-mal, dan informal;
F Tantangan era globalisasi; dan
F Kurang efektifnya implementasi peraturan perundang-undangan.
Krisis karakter diatas dapat mempengaruhi proses kepemimpinan dalam bersikap, berperilaku dan bertindak dalam pengambilan keputusan.
Selain mengindari hal tersebut diatas, dalam hal ini usulan saya agar mahasiswa dapat mencapai tujuan tersebut, yaitu sebagai pembuat keputusan paling tidak harus berkompeten mengimplementasikan Falsafah Kepemimpinan (Ki Hadjar Dewantara ), yang mengatakan bahwa:
·         Ing Ngarso Sung Tulodo (di depan mem-beri contoh keteladanan)
·         Ing Madyo Mangun Karso (di tengah membangun karsa àmemotivasi).
·         Tut Wuri Handayani (di belakang berusa-ha memberdayakan, memberi support).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar